Sabtu, 16 Januari 2010

Malioboro Jalan Sejuta Kenangan

Ke Yogyakarta, belum afdol kalau belum mampir ke Malioboro. Ya, jalan yang berada persis di garis imajiner yang menghubungkan Kraton Yogyakarta, Tugu, Monumen Jogja Kembali dan puncak Gunung Merapi memang menjadi kawasan legendaris dan menyimpan sejuta kenangan.

Jalan tersebut dibangun sejak Raja Ngayogyakarta Hadiningrat Sri Sultan Hamengku Buwono I, dilengkapi sarana perdagangan berupa pasar tradisional semenjak tahun 1758. Pasar yang dulunya berupa kawasan yang banyak tumbuh pohon beringin akhirnya diberi nama Pasar Beringharjo. Kawasan perdagangan tersebut terus berkembang dan setelah berlalu 248 tahun, akitvitas perdagangan meluas hingga menguasai seluruh kawasan Malioboro.

Jalan Malioboro telah membentuk sebuah kawasan tempat berkumpulnya berbagai komunitas. Dari sekian banyak komunitas yang ada, hanya komunitas pedagang yang terus eksis hingga kini. Komunitas-komunitas yang lain, yang dulu memanfaatkan kawasan ini, seperti komunitas budayawan dan seniman akhirnya hanya kebagian ruang sempit, tergusur aktivitas perdagangan yang semakin lama semakin menguasai ruang di Malioboro.

Malioboro tidak ada hubungannya sama sekali dengan mallbor. Malioboro diambil dari bahasa sansekerta yang berarti karangan bunga. Dulu, jalan yang perisis membujur ke arah pintu gerbang Keraton Ngayogyakarta selalu dipenuhi karangan bunga jika Keraton menggelar perhelatan. Karena itu jalan tersebut diberi nama Malioboro (karangan bunga).

Malioboro menjadi saksi bisu beragam peristiwa penting yang akhirnya banyak mewarnai perjalanan panjang bangsa Indonesia. Hengkangnya tentara kerajaan Belanda dari Bumi Pertiwi secara simbolik dilakukan di Jalan Malioboro dan ada prasastinya yang dapat dilihat sampai sekarang. Di kanan kiri Jalan Malioboro terdapat banyak bangunan bersejarah, diantaranya Benteng Vredeburg dan Gedung Agung. Pernah menjadi tempat bersarang komunitas seniman dan budayawan besar.

Malioboro memang eksotik. Keeksotikan tersebut tetap berpendar hingga saat ini. Ikon Kota Yogyakarta menyediakan aneka macam cinderamata khas Jogja. Perburuan cinderamata sambil berjalan kaki di bahu jalan tempat mangkalnya ratusan pedagang kaki lima menghadirkan suasana nan romantis. Semua ada disini, mulai dari produk kerajinan lokal dan pernak pernik umum yang banyak ditemui di tempat perdagangan lain.

Bila sudah cukup puas menyusuri Malioboro, lesehan Malioboro yang mulai buka menjelang petang dapat dimanfaatkan melepas lelah sambil menikmati makanan khas Jogja Gudeg. Bagi yang ingin memanjakan mulut dengan menu lain, juga ada burung dara goreng/bakar, pecel lele, sea food, masakan Padang dan aneka makan khas lainnya. Sambil menikmati makanan, pengamen jalanan akan menghibur dengan lagu-lagu hits atau tembang kenangan.

Itulah suasana yang ngangeni, suasana Malioboro. Maka "Kembali Ke Kotamu" menggambarkan kerinduan akan Jogja dengan Malioboronya. Bila rindu Jogja (www.krjogja.com) bisa sedikit menghibur sebelum ada waktu untuk datang atau pulang ke Jogja. (Bambang Murdoko/Festival Malioboro)

Senyum Lucu



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

Komentar :

ada 8 komentar ke “Malioboro Jalan Sejuta Kenangan”
septian mengatakan...
pada hari 

kata oornag sih maliboro enak...tpi aku belum pernah kesana

gyant mengatakan...
pada hari 

Makana kalau ada libur tau waktu luang berkunjung ke Jogja...gak bakalalan rugi deCh..

the international times mengatakan...
pada hari 

hanya pernah liat sekilas di tv dan baca di koran/majalah tentang malioboro :),gw belum pernah ke yogya ^_^

gyant mengatakan...
pada hari 

hehehehe...yang penting kenal dulu tau tahu dulu...

♥ria♥ mengatakan...
pada hari 

udah lama ga ke yogya ^^

gyant mengatakan...
pada hari 

@ria.kapan2 berkunjung lagi....

iwan mengatakan...
pada hari 

jadi ingat waktu kuliah di jogja nih, sambil makan nasi angkringan di malioboro sambil mendengarakan lagunya mas katon bagaskara judul "yogyakarta"
i miss you jogjaku

birthday party mengatakan...
pada hari 

waah ia bener bgt kalo gak kesana pasti ada yg kurang hehe :D

Poskan Komentar