Sabtu, 18 April 2009

Sembilan Jam di Kereta

Waktu itu begitu susahnya mencari tiket kereta api, pesan telat dua hari dari tigapuluh hari sebelum pemberangkatan saja saya sudah tidak mendapatkan tiket. Bahkan semua calo pun aku tanyai kalau-kalau mempunyai, namun apa jawaban si calo sama dengan petugas PT Kereta Api ‘Sudah Habis Mas’. Memang liburan kali ini lain, karena berbarengan dengan pesta demokrasi di Negara kita.

Perjalanan saya aku mulai dari stasiun kecil di pinggiran kota Yogyakarta, dengan berbekal tiket tanpa tempat , tangan sambil membawa Koran dengan harapan untuk lesehan di dalam kereta aku masuk kedalam kereta. Didalam kereta sudah puluhan bahkan ratusan orang duduk lesehan, tentu saja mereka sama dengan saya nasibnya tidak kebagian tiket tempat duduk. Dari naik pertama masuk rangkaian kereta, aku susuri gerbong demi gerbong sampai mendapat gerbong yang lumayan agak longgar. Di gerbong itu aku mulai menggelar Koran untuk lesehan sambil sesekali membaca berita yang lagi hangat-hangatnya yaitu hasil pemilu.

Sambil membaca tak sengaja aku melihat seseorang bercakap-cakap dengan samping duduknya, sesekali dia tersenyum entah apa yang membuat dia tersenyum. Wajahnya khas orang-orang jawa dan kelihatan bersahaja. Kira-kira sampai Banyumas pedagang mulai banyak yang lalu lalang di rangkaian kereta, dia membeli lanting kalau nggak salah lima bungkus. Memasuki kota Purwokerto para pedagang semakin banyak yang masuk kedalam rangkaian kereta untuk menawarkan dagangan mereka. Otomatis aku berdiri untuk memberi kesempatan pedagang lewat. Dari luar ada pedagang yang menawarkan getuk goreng makanan khas Sukaraja. Kembali dia pun tertarik untuk membeli, tawar-menawarpun dilakukan sesekali diikuti senyuman khas dia.

Mungkin sudah agak capek duduk karena perjalanan sudah hampir empat setengah jam, dia pun terlelap tidur, sesekali tak sengaja aku melihat wajahnya karena aku ingin melihat suasana luar lewat cendela dimana cendela itu sebagian untuk sandaran dia. Di dalam hati aku bergumam ’’ Lucu juga nich cewek kalau lagi tidur’’ hehehehe…

Beranjak dari tidurnya penjual nasi bungkus lewat dia pun membeli satu bungkus, bukannya ikut-ikutan, secara kebetulan petugas restorasi membawa beberapa piring nasi goreng aku pun membelinya karena perut saya juga sudah lapar. Setelah makan diatas laju kereta api dia sesekali berdiri mendekat kecendela mungkin dia gerah dengan suhu dalam kereta api yang agak panas, dengan harapan mendapatkan angin dari luar. Jelas saja pandangan saya untuk melihat suasana luar terhalang wajahnya.

Menjelang sampai di stasiun Jati Negara sebagian penumpang mulai siap-siap untuk turun tak ketinggalan saya pun siap-siap. Terlihat dia juga siap-siap. Sambil jalan mau mendekat ke pintu kereta dia menyapa aku ‘’disertai senyuman dia bilang mas’’ aku jawab yukkk…. Sampai di luar stasiaun aku ketemu lagi dengan dia, kemudian aku sapa:

Aku : mau kemana mbak
Dia : Mau ke Cakung, Mas?
Aku : Sama (aku/dia sama-sama tersenyum)

Sebenernya aku tadinya pingin naik ojek berhubung ada temen satu jurusan aku ajak aja dia naik angkot kalau aja dia mau, ehhh ternyata dia mau. Lumayankan kalau naik angkot bisa mengurangi angaaran tapi harus dibayar dengan lamanya waktu. Sepanjang perjalanan di angkot kita terlibat perbincangan, ternyata diapun tadinya mau naik ojek hehehe… Terimakasih ya? sudah membelikan aku air mineral di dalam angkot. Oo iya untuk nama para pembaca nggak perlu pada tahu ya? Ternyata kantor diapun deket sama kantor saya, apa lagi kost-kostsan dia.Ternyata selama ini aku sering lewat depan kost dia.

Setelah turun dari angkot jam sudah menunjukkan pukul 19:15 aku putuskan untuk makan malam, tak ketinggalan aku ajak sekalian dia. Kita putuskan untuk makan ayam bakar, jus alpukat dan es jeruk. Setelah perut terganjal kita pun melanjutkan untuk pulang ke kost. Dari tempat makan kita cukup untuk jalan kaki. Aku juga lewat depan kost dia, untuk sekalian mengetahui kost dia hehehe, setelah dia masuk ke are kost dia, aku pun melanjutkan untuk pulang. Dalam perjalanan pulang aku baru ingat kalu aku belum sempat tanya nomor handphonya. Tapi tidak mengapa karena aku sudah tahu kost dia.


Selamat bertemu lagi di lain waktu ya…




Artikel Terkait:

Bookmark and Share

Komentar :

ada 0 komentar ke “Sembilan Jam di Kereta”

Posting Komentar