Rabu, 01 Juli 2009

Kumaafkan Engkau, Maafkan Daku

Sangat sulit menciptakan suatu hubungan tanpa masalah. Memang bukan hidup kalau tidak ada masalah. Selalu muncul masalah dari kecil hingga besar. Konflik juga tidak jarang memunculkan perang mulut. Kondisi demikian biasanya malah memperparah suasana. Nah, bagaimana semestinya kita menghadapi konflik. Akankah diperpanjang permasalahannya, ataukah mengedepankan sifat pemaaf?

Masalah tidak selesai dengan marah. Namun hendaknya hal ini tidak sampai terus berlanjut. Tidak baik bila suatu perselisihan berlanjut saling benci, saling diam dan saling dendam. Akan lebih baik bila segera saling memaafkan. Dalam kehidupan manusia, kesalahan ibarat bagian dari tubuhnya, tidak mungkin terpisahkan. Karena manusia tidak ada yang sempurna. Walaupun begitu, sebagai manusia yang diberikan kemampuan berpikir, kesalahan tersebut hendaknya bisa diperkecil.


Meminta maaf biasanya dikatakan lebih mudah daripada memberi maaf. Apalagi kalau hati sudah terlanjur tersakiti. Namun seharusnya sifat pemaaf wajib ada dalam suatu hubungan rumah tangga, masyarakat dan lingkungan sekitar. Kalau sifat pemaaf itu tidak ada maka tidak mustahil suatu hubungan akan harmonis. Dalam menghadapi masalah, kalau harus mengalah baginya tidak masalah. Lagi pula mengalah tidak berarti kalah, bukan? Setiap orang pasti pernah berbuat salah, termasuk kita. So, kenapa kita tidak bisa memaafkan. Sebaiknya sebelum seseorang minta maaaf , kita sudah memaafkan terlebih dahulu.


Maafkan Aku yacH…^__*
Senyum Lucu



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

Komentar :

ada 0 komentar ke “Kumaafkan Engkau, Maafkan Daku”

Poskan Komentar