Selasa, 23 Februari 2010

Menyikapi Situs Pertemanan

Hari gini siapa yang nggak kenal Facebook, Twitter atau situs pertemanan lain? Jangankan orang dewasa, anak-anak juga familiar dengan situs-situs itu.

Situs pertemanan saat ini begitu populer dan penggunanya sangat banyak. Saya pernah melihat di bandara, ada keluarga yang nampaknya asyik ber-Facebook-ria melalui telepon seluler. Si ayah asyik meng-update status. Si anak asyik meng-upload foto-foto dirinya. Sementara si ibu tersenyum-senyum sendiri membaca status teman-temannya. Seolah-olah setiap anggota keluarga asyik sendiri dengan Facebook.

Tujuan situs pertemanan diciptakan untuk menyambungkan lagi orang-orang yang terpisah jarak agar mereka dapat berinteraksi (dengan kata lain menyambung tali silahturahmi). Itulah daya tarik situs jenis ini. Manfaat lainnya, jejaring sosial semacam ini mampu membantu kita berkenalan dengan orang lain yang kita anggap potensial untuk kehidupan kita.

Manfaat lainnya adalah kita dapat belajar mengekspresikan perasaan. Dalam Facebook, misalnya, menulis status merupakan bentuk alternatif dari menulis buku harian. Kita dapat melatih diri untuk mencurahkan perasaan, pikiran atau apapun yang ingin diungkapkan. Terlepas benar salahnya, ekspresi, atau penting tidaknya yang ditulisnya, yang jelas kita belajar untuk berekspresi dan menunjukkan pada orang lain. Sedikit banyak ini melatih kemampuan untuk berani berpendapat.

Lalu bagaimana dengan sisi negatif situs pertemanan? Sudah kita ketahui bersama akhir-akhir ini media menyoroti dampak negatif situs pertemanan. Adanya beberapa kasus kaburnya atau di bawa kaburnya anak gadis dari orang tuanya karena ingin kopdar (kopi darat). Dan penipuan-penipuan melalui situs pertemanan.

Potensi berbahaya lainnya adalah terputusnya relasi dengan realitas sosial. Kita tentu tak ingin memilih lebih asyik membaca status teman-teman di Facebook dibandingkan mengobrol dengan orang tua kita di meja makan. Atau, kita tentu tidak mau menyendiri di pojok ruangan untuk meng-update status dan mengomentari status teman dibandingkan mengobrol dengan suadara-saudara dan keluarga.

Namun demikian, kita tidak usah bersikap paranoid terhadap situs pertemanan. Situs pertemanan ibarat pisau. Jika pisau digunakan sebagaimana mestinya (misalnya untuk memotong sayuran), maka ia akan menjadi hal yang bermanfaat dan tidak membahayakan. Lain ceritanya jika pisau digunakan untuk mengancam jiwa seseorang, pastilah akan sangat berbahaya.

Dengan demikian, menggunakan situs pertemanan dengan bijak menjadi syarat utama agar situs pertemanan tersebut tidak akan “mencelakai” kita.
Senyum Lucu



Artikel Terkait:

Bookmark and Share

Komentar :

ada 2 komentar ke “Menyikapi Situs Pertemanan”
Nadine mengatakan...
pada hari 

setuju sekali, semua dikembalikan ke pribadi masing-masing untuk kegunaan situs pertemanan ini

dens mengatakan...
pada hari 

kita jangan ambil yang negatifnya, sebenarnya masih banyak manfaatnya ktimbang yang jleknya.

Poskan Komentar